Premis-premis Kontraposisi dan Biimplikatif

(v1.0.0.0)

Dalam diskusi-diskusi di blog maupun di forum maya, sering saya dapati debat kusir yang berujung pada ketidakpastian arah diskusi bahkan hingga caci maki. Dalam diskusi yang lain, saya sering jumpai juga diskusi yang stagnan serta tidak berkembang pemikirannya. Misalnya diskusi antara aktivis ekstraparlementer dengan aktivis intraparlementer mengenai masalah demokrasi. Masing-masing pihak berkeras diri dengan tanggapan yang berasal dari alur berpikirnya tanpa menyamakan suhu terlebih dahulu. Oleh karena itu dalam tulisan kali ini saya akan memberikan justifikasi mengenai biang keladi kekacauan pemikiran dalam diskusi-diskusi tersebut.

Dalam melakukan analisis terhadap alur berpikir pada argumen-argumen yang terlibat dalam diskusi tersebut, saya menemukan bahwa kekacauan artikulasi terjadi akibat premis-premis kontraposisi.

Apakah yang dimaksud dengan premis kontraposisi?? premis kontraposisi secara sederhana bisa diartikan sebagai premis yang dijadikan sebagai suatu antitesis namun tidak memiliki hubungan negasi langsung terhadap tesisnya. Adapun premis antitesis yang memiliki hubungan negasi terhadap tesisnya adalah premis biimplikatif.

Saya cantumkan sedikit contoh penggunaan pemikiran yang mengandung premis kontraposisi, supaya para pembaca bisa lebih memahami premis-premis ini:

schlachthausabattoir : “Dalam menulis suatu tesis awal, hendaknya seorang penulis telah melakukan penelaahan serta mencantumkan data-data yang memuat kepastian atas kebenaran alur berpikirnya.”

todafan : “Sebetulnya permasalahan yang timbul ketika menulis pemikiran awal adalah….polarisasi tulisan. Tatkala kita mencoba membuat sebuah tulisan “sempurna” yang tanpa polarisasi dan pertentangan, maka timbul sebuah tanda tanya besar “Apa efek tulisan ini bagi masyarakat yang membacanya?””

Dapat dilihat dari adu argumen antara schlachthausabattoir dan todafan diatas. Dalam argumen awal, schlachthausabattoir mengungkapkan pemikirannya tentang pembuatan sebuah tulisan dimana acuannya adalah terbentuknya suatu pemikiran yang logis. Namun todafan memberikan tanggapan yang tidak berhubungan langsung dengan pokok pikiran dari argumen schlachthausabattoir. Todafan tiba-tiba memberikan argumen dengan acuan pemikiran yang berbeda, yaitu polarisasi pemikiran yang mengakibatkan pertentangan.

Nah, antara premis “terbentuknya pemikiran yang logis” dengan premis “polarisasi pemikiran yang mengakibatkan pertentangan” tidak berhubungan negasi atau berada dalam konteks yang sama. Tetapi premis-premis ini berada pada konteks yang berbeda. Artinya, meski premis todafan bertujuan menentang premisnya schlachthausabattoir, premisnya todafan tidak memuat jawaban “bagaimana yang seharusnya pengembangan tulisan itu”. Dan bahkan meski premis kontraposisi todafan memuat jawaban “mengapa premis schlachthausabattoir tidak tepat”, tetapi alur yang mengarah kepada pertanyaan “mengapa” tersebut tidak terbentuk. Hakl ini dikarenakan pokok pikiran schlachthausabattoir tidak terapresiasi. Jika demikian halnya, akan sangat mudah terjadi kebingungan.

Namun akhirnya, karena schlachthausabattoir mampu menyusun pemikiran secara deduktif dan dapat berdiskusi dengan pola pikir seperti itu, akhirnya argumen todafan pun dapat dijawab tanpa kehilangan arah diskusi. Meski tidak kehilangan arah tapi schlachthausabattoir mesti menyesuaikan argumen dengan alurnya todafan, artinya acuan pemikiran yang dibahas jadi berubah dari topik tulisan menjadi argumennya todafan. Ini biasa terjadi jika lawan diskusi memberikan argumen dalam pola pikir secara induktif dari kerangka berpikir yang menjadi bahasan diskusi. Orang yang dikomentari akan kerja lebih berat daripada yang memberikan komentar. Karena dia akan berusaha mengembangkan pokok pemikirannya hingga menyentuh permasalahan yang dijadikan acuan bagi sang tukang komentar. Sementara sang tukang komentar, karena sejak awal tidak mengapresiasi pokok pikiran dalam tulisan, dia tidak perlu mengembangkan acuan pemikirannya sampai menyentuh masalah yang ada dalam pokok pikiran tulisan. Dia hanya menunggu hingga sang penulis menjawabnya dengan hasil pengembangan pemikiran penulis.

Kejadian seperti ini dapat dibilang kurang fair, karena pemikiran yang lebih kompleks dipaksa berhadapan dengan pemikiran yang lebih sederhana, sementara premis yang menjadi acuan belum disepakati. Kejadian ini akan bertambah lebih parah jika masing-masing penulis dan tukang komentar adalah orang-orang yang berpikir secara induktif. Tidak dapat dibayangkan bagaimana premis-premis kontraposisi akan bertebaran  saling bersahutan. Tidak akan terjadi pemikiran. Yang ada malah informasi-informasi yang tidak jelas hubungannya.

Oleh karena itu, supaya terjadi pembangunan pemikiran yang sehat dalam diskusi, hendaknya yang digunakan untuk saling mengomentari dan menanggapi adalah premis-premis biimplikatif. Yaitu dengan mengapresiasi pokok pikiran dari penulisan.

Misalnya jika schlachthausabattoir menyampaikan tentang pembangunan pemikiran dengan penelaahan dan pencantuman data-data yang memuat kepastian kebenaran tulisan, maka seharusnya dijawab dengan pemikiran mengenai “bagaimana seharusnya tulisan itu dibangun”, mulai dari acuan pembuatan tulisan hingga pengembangan pemikirannya. Dan jawaban seperti ini selain bersifat negasi terhadap pokok pemikiran dalam tulisan schlachthausabattoir, juga memuat pengembangan pemikiran negasi yang mengarah pada acuan kerangka berpikir todafan(menjawab pertanyaan  “mengapa” – red).

Sehingga dengan demikian, dapat langsung terlihat mana pemikiran yang benar dan mana pemikiran yang salah tanpa harus terjadi debat kusir. Meski tentu saja kerangka berpikir todafan pun dapat diuji verifikasi(dan itulah yang dilakukan schlachthausabattoir…). Tetapi mekipun perdebatan masih dapat berlangsung, telah terjadi kesamaan suhu antara penulis dan tukang komentar. Dan mereka melanjutkan pengembangan pemikiran dalam konteks yang sama.

Oleh karena itu, hemat saya kepada para pembaca sekalian, jika pembaca yang budiman berada dalam posisi sebagai orang yang menaggapi atau mengomentari, hendaknya menanggapi dengan premis-premis biimplikatif, bukan premis-premis kontraposisi. Yaitu dengan mencermati pokok pikiran dalam hal yang ditanggapi dan mengapresiasinya dengan pengembangan pemikiran dari premis yang menurut pembaca harus dijadikan acuan. Jangan sampai terjadi debat kusir gara-gara masing-masing pihak saling menanggapi dengan premis-premis kontraposisi.

Perlu dicermati juga, permasalahan mengenai premis-premis kontraposisi dan biimplikatif tidak hanya terjadi pada tulisan ataupun media-media diskusi. Permasalahn ini juga dapat terjadi pada konteks benturan pemikiran yang lebih besar. Yaitu misalnya konstelasi politik negara. Salah seorang teman saya pernah berkata, “Mungkin penyebab lemahnya gerakan mahasiswa saat ini dikarenakan yang mereka suarakan adalah pemikiran-pemikiran yang kontraposisi terhadap keadaan masyarakat”.

Jika demikian halnya, maka untuk terciptanya pertentangan pemikiran yang lebih dahsyat di masyarakat, harus diteliti lebih jauh apa permasalahan sesungguhnya yang menyebabkan kekacauan dan kesengsaraan. Jika permasalahan utamanya adalah pelaksanaan ideologi kapitalisme, maka sudah saatnya mahasiswa melakukan perjuangan yang menegasikan ideologi tersebut. Yaitu dengan perjuangan yang ideologis pula.

Demikian saya sampaikan justifikasi saya terhadap kekacauan artikulasi pemikiran baik dalam media-media diskusi maupun dalam konteks benturan pemikiran yang lebih besar. Supaya tiap-tiap orang dapat selalu berpikir jernih dan mencermati pengembangan pemikiran dalam media-media yang dia ikuti. Tidak sekedar latah memberikan argumen tanpa peduli seperti apa pemikiran yang sedang berkembang. Apalagi sampai bersikap keras kepala dan tidak mau kalah serta terjerumus kedalam romantisme…

[Keterangan v1.0.0 .0 : ini tulisan baru dengan contoh penggunaan premis-premis kontraposisi dan biimplikatif yang masih sederhana dan masih terdapat dalam ingatan saya. Jika saya menemukan lebih banyak contoh-contoh lain akan saya usahakan untuk update artikel ini.]

About these ads

~ by schlachthausabattoir on February 22, 2009.

22 Responses to “Premis-premis Kontraposisi dan Biimplikatif”

  1. berarti mesti bikin tulisan lagi dong kk: Mengapa susah banget bikin komentar??!! wekekekek

  2. hmmm.. lebih tepatnya, mengapa susah banget bikin komentar yang cerdas??!!

    tapi buat wa sih mudah.. dah terbiasa soale.. :p

  3. rupanya awa yang dijadikan sampel….hahaha.

    Oh….kamu nganggepnya itu nanggapi ya? saya sih kalau komen gak pernah mikir apa yang harus dikomentari, tapi permasalahan yang biasa dihadapi apa…ok deh, nanti dicoba lagi. Makasih buat masukannya.

  4. komen saya diatas kontraposisi apa biimplikatif? :D

  5. Saya mendapatkan ide yang cukup brilian anda dari istilah kontraposisi dan biimplikatif, tetapi ketika saya coba kaitkan dalam tataran realitas rupanya tidak sesederhana itu.

    1. Tidak dapat kita memaksakan seseorang menghukumi sesuatu dari satu sudut pandang yang sama, ada bias derajat sehingga pandangannya tidak benar2 kontradiktif linier. Sehingga diperlukan kesamaan terlebih dahulu kacamata yang digunakan, sehingga diskusi biimplikatif tersebut dapat tercapai. Justru pada realitasnya, usaha untuk menyamakan paradigma itu yang menjadi usaha utama dari sebuah diskusi. Ketika kesimpulan haramnya golput itu banyak didasari penghukuman berdasarkan fakta ketakutan adanya kepemimpinan non islam, maka proses diskusi harus membelokkan asumsi awal tersebut dengan mengubah paradigma berpikir yang asalnya berdasarkan “fakta” (aqli) kepada dasar “naqli”. Jika argumentasi fakta tadi dilawan oleh fakta lagi, keduanya terjebak dalam pusaran “asumsi” yang sulit menentukan mana yang memang benar atau tidak…semuanya dugaan.
    2. Tidak semua pemikiran dapat dipukul rata hanya antara dua polarisasi sehingga negasi menjadi sesuatu yang rancu pada tataran realitas. Negasi dari pemikiran ekonomi komunisme sosialis bukanlah berarti ekonomi liberal, jika negasi komunisme sosialis adalah liberal, maka posisi ekonomi islam negasi dari mana? dari ekonomi non islam…dari komunisme dan liberal?…padahal negasi dari ekonomi komunisme apakah islam? tiga polarisasi sistem tadi bukan lah sebuah kontradiktif linear, tapi ketiganya memiliki polarisasi tersendiri yang unik, bukan negasi dari satu sama lainnya.

    Saya takutnya kita terjebak pada alat logika yang kita gunakan. Logika yang didalamnya ada istilah (negasi, komplement, dan, atau) adalah sebuah alat dalam berpikir. Tetapi seperti dalam kitab tafkir dijelaskan bahwa sangat berbahaya ketika kita melakukan pemikiran berdasarkan alat berpikir logika tersebut, kenapa? karena premis-premis dalam logikanya sendiri dapat memunculkan kerancuan dalam berpikir (harus membuktikan logika itu benar atau tidak terlebih dahulu ketika dikaitkan dalam sebuah contoh kasus)…dalam kitab itu juga dijelaskan, daripada kita menggunakan alat logika tersebut lebih baik melakukan penelaahan dari cara berpikir rasional yang secara given menentukan benar/salah telah diberikan Allah kepada kita, tanpa harus melalui tahapan logika tersebut. Pada premis logika, negasi dari benar adalah salah, tetapi pada realitas sesuatu yang tidak benar dapat benar juga, Rasul memerintahkan sahabat untuk tidak berhenti ketika diutus ke Bani Quraidhah. Disitu sahabat ada yang berhenti untuk shalat ashar dulu ada yang tidak, dan ternyata keduanya benar…secara premis logika ini sesuatu yang rancu. Daripada melewati premis logika untuk mendapatkan kesimpulan, sebaiknya langsung melakukan pemikiran secara rasional.

    Pendekatan rasional bagi saya satu-satunya yang dapat memberikan pijakan yang benar. Keterkaitan ide dengan fakta tidak dapat dilepaskan. Konsep logika bagi saya merupakan sebuah ‘generalisasi’ dari beberapa fakta, dan digunakan untuk menghukumi semua fakta yang ada dengan premis yang sama. Berpijak pada cara berpikir rasional sangat2 penting, karena banyak orang menganggap telah melakukan achievement yang sangat tinggi dalam sebuah pemikiran tetapi pada nyatanya konsep itu hanya dalam tataran idea, tidak applicable, contohnya adalah konsep demokrasi. Kalau dalam kitab tafqir, berpikir tanpa landasan fakta yang terindra disebut sebagai bermimpi yang serius.

    Wallahu Allam

  6. @ kk eecho..

    1.Justru wa kira kk lah yang disini melakukan generalisasi.. Fakta dilawan fakta??.. fakta apa dulu??..

    jadi daripada melakukan generalisasi, lebih baik detilkan premisnya.. misal:

    tesis : jangan golput, kalo enggak nanti yang jadi presiden dan dpr non Islam.
    antitesis : ga masalah golput, karena emang ga masalah yang jadi presiden dan dpr non Islam

    disini terlihat antitesisnya berupa negasi..
    lanjoot..

    tesis baru : Kalo presiden ama dpr-nya non Islam gimana nasib ummat dalam menjalankan syariatnya??
    antitesis baru : kalo presiden dan dpr-nya Islam nasib ummat sama saja..

    antitesisnya masih berupa negasi..
    dalam lanjutan diskusi seperti ini konteks pembicaraan akan langsung berubah dan semaikin berkembang.. pengalihan konteks ke arah dalil naqli sebenarnya bisa langsung dilakukan sejak lanjutan diskusi pertama..

    alternatif tesis baru : Bukankah haram memiliki pemimpin non Islam..
    anternatif antitesis baru : tidak ada dalil haram memiliki presiden dan dpr non Islam.. karena sistemnya sendiri sudah diharamkan..

    dialternatif tesis baru sudah langsung membicarakan dalil, dan dalam alternatif antitesis baru terdapat dua premis.. premis pertama adalah jawaban atas alternatif tesis baru dan bersifat biimplikatif.. sedangkan premis yang kedua adalah tesis baru yang mengarahkan konteks pembicaraan mengenai pembahasan dalil terkait sistem..

    jadi?? ndak masalahkan??

    justru kalo di diskusi pertama diberikan antitesis berupa dalil, alur berpikir langsung konfuse.. karena bukan berarti yang membawa tesis pertama bukan tanpa dalil naqli.. tetapi dia menggunakan dalil naqli dalam konteks yang berbeda.. oleh karena itu penggunaan premis biimplikatif sejak awal dapat mengarahkan diskusi langsung ke konteks yang tepat.. dan bahkan bisa langsung melakukan uji verifikasi terhadap premis-premis yang dikeluarkan oleh orang pertama(yang mengeluarkan tesis anti golput)..

    2. ckck.. kk ini selain suka menggeneralisasi juka kurang mengerti tampaknya.. kapan suatu premis dikatakan premis biimplikatif atau kontraposisi?? tentu bergantung kepada premis yang sedang menjadi acuannya.. ingat!! SEDANG.. artinya suatu premis dapat terpolarisasi satu sama lain ketika sedang berhadapan dengan premis lain dalam proses diskusi..

    kalo kita lagi mengeluarkan premis tentang ekonomi komunisme dan ekonomi islam, maka keduanya biimplikatif terhadap satu sama lain.. kalo premis yang sedang keluar adalah ekonomi liberal dan komunisme, maka keduanya biimplikatif satu sama lainnya..

    tapi catatan juga.. pembahasan ini gak akan jelas karena kk eecho masih melakukan generalisasi.. predikat dan objek ekonomi Islamnya apa?? predikat dan objek ekonomi sosialisnya apa?? tidak bisa membahas suatu premis jika tidak lengkap susunan kalimatnya..

    perlu diketahui, menurut wa, bahasa itu bukan cuman simbol komunikasi, tetapi juga media dari logika.. tidak lengkap bahasa, tidak akan terbentuk ilmu..

    mengenai kasus Rasulullah saw… wa kira kk salah menempatkan acuan benar salahnya.. apa yang dilarang rasulullah adalah salah, apa yang tidak dilarang adalah benar.. dalam kasus pengepungan bani quraidhah, keduanya bersifat negasi antara satu sama lain dalam satu premis.. tapi premis ini tidak menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah.. karena negasinya tidak terhadap sikap Rasulullah saw… yang menunjukkan benar salah adalah premis mengenai sikap rasulullah terhadap keduanya..

    a. Sebagian sahabat mengawali shalat ashar
    b. sebagian sahabat lain mengakhiri shalat ashar
    c. Rasulullah mendiamkan a
    d. Rasulullah mendiamkan b

    antara a dan b saling menegasikan(penyikapan objek secara berbeda) tapi tidak mengandung nilai kebenaran.. nah antara c dan d tidak saling menegasikan(penyikapan objek secara sama).. oleh karena itu antara c dan d, tidak berhubungan biimplikatif..

    wa menggunakan logika tentu saja dari pengembangan metode rasional.. artinya suatu logika tidak akan absah, jika masih terdapat istilah yang tidak terdefinisikan.. oleh karena itu logika yang akan dibangun justru logika yang memuat kumpulan pemikiran-pemikiran rasional.. karena permulaan pembangunannya justru dilakukan dalam konteks yang sangat detil, yaitu pada tataran definitif..

    oh ya satu lagi.. tulisan ini tidak menjelaskan bakal diperolehnya kebenaran atau tidak.. tetapi bagaimana membangun kerangka berpikir dalam diskusi.. sehingga ketika alurnya sudah nyambung, maka langsung terlihat secara rasional mana yang benar dan mana yang salah.. ntahvavaa kok jadi nyambung masalah benar/salah..

    wallahu’alam

  7. @ syauqi
    Kang, adain kajian dong buat kita-kita nih yang muda, tentang perkara beginian. Yah, biar kalau dihadapkan pada sebuah diskusi atau kajian, bisa menanggapi dengan lebih baik dan komperhensif.

    Sip?

  8. hmm, awalnya seperti biasa, sy suka bingung baca tulisan uki.bahasanya rumit.tapi, setelah saya coba baca,paham juga maksud tulisan ini.

    intinya mah kalo diskusi kita mesti menjawab atau memberi komentar sesuai dengan permasalahan yang diungkapkan penulis ato pembicara kan?dan memberi jawaban secara terstruktur?

    dan ini lah kekuatan yang seharusnya dimiliki seorang yang suka diskusi, khususnya pengemban dakwah yang harus mampu menguraikan permasalahan atau kebingungan seorang mad’u.

    buat orang-orang tertentu, mungkin mereka akan merasa terjawab (ato mengerti maksud jawaban tukang komentar) dengan gaya komentar/pemberian jawaban yang tidak terstruktur tapi sebetulnya mengena ke permasalahan. mungkin,kalo saya ga salah, seperti perbincangan yang terjadi antara schlachthausabattoir dan todafan.

    schlachthausabattoir mengungkapkan satu permasalahan, tapi todafan tidak menjawab ato memberi komentar tepat ke pernyataan itu, tapi,lebih jauh todafan menjawab dengan mencoba memberikan jawaban yang mengena ke inti permasalahn yang diungkapkan schlachthausabattoir.

    dan dalam contoh di atas, schlachthausabattoir mengerti apa yang dimaksudkan todafan, walo jawabannya tidak secara langsung bisa dipahami orang kebanyakan sebagai jawaban permasalahan/pernyataan schlachthausabattoir. bener ga? hoho,sotoy ya saya ^^”

    mengenai gaya bahasa, buat saya, bahasa uki suka aga susah dipahami.mungkin, sring tidak satu kali baca, sy langsung paham maksud tulisan2mu.mirip kayak saya baca buku2 serius.mungkin karena saya orangnya simple dalam berbahasa kali y. mungkin, sy harus mengupgrade gaya bahasa sy,hehe

  9. wew.. sepertinya lebih mampu menjelaskan dalam semiotika yang umum kk.. -_-

    kalo peristiwa perbincangan antara todafan dan schlachthausabattoir, Todafan tidak menjawab ke hal yang merupakan inti, dimana yang dimaksud inti adalah premis awal tempat membangun kerangka deduksi pemikiran.. tapi justru dia menjawab kepada hal yang tidak dipermasalahkan dalam artikel.. jadi memiliki konteks yang berbeda.. hanya saja schlachthausabattoir tetap menanggapi jawaban todafan, tapi dengan kerangka deduksi yang dibangun todafan, bukan kerangka deduksi artikel.. seperti itu kk..

    kalo masalah gaya bahasa, maksudnya simbol yang digunakan yah? kalo masalah simbol mah tinggal liat di kamus ajah sepertinya..

    kalo kaidah.. wa pikir kaidah bahasa wa sudah sesuai kaidah formal.. apakah penempatan simbol2 bahasa wa ada yang salah??

    wallahu’alam..

  10. Btw, inti dari tuisan “Premis-premis Kontraposisi dan Biimplikatif” yaitu bagaimana diskusi yang efektif ya? saya pikir selain dari formulasi kerangka berpikir tentang alur berpikir yang jernih diperlukan juga sebuah etika berdiskusi yang harus dibangun bersama, soale sering dalam banyak diskusi ujung2nya jadi debat kusir karena masing2 pribadi merasa pendapatnya lah yang benar. Sehingga timbul pertanyaan tentang diskusi itu untuk mencari kebenaran ataukah mencari pembenaran terhadap apa yang diyakini selama ini?

    Seperti diskusi di Unpad dengan orang JIL (Jaringan Islam Liberal) yaitu Ulil Absar Abdala, nah Ulil bilang “Selamatkan Indonesia dari Syariah…” kemudian Ustad Ismail Yusanto bertanya pada Ulil, “Ulil, kalo kamu mati, mayatnya mau digantung? Dibakar? Atau dibuang kelaut? Karena kalo dikafani dan dikubur itu syariat Islam..”

    Kalo manusia normal sih bakalan mati kutu ditanya kaya gitu, tapi ternyata Ulil tetap mengelak dan menertawakan statement dari Ustad Ismail, nah setelah Ulil bilang selamatkan Indonesia dari Syariah, kata orang2 sih Ulil dikuliahkan oleh AS di Harvard University jurusan Filsafat, S3 bro… bayangkan… dengan mudahnya ulil bisa masuk Harvard!

    Pertanyaan saya buat Ka’ Uqi, bagaimana cara menunjukan pemahaman yang jernih pada manusia sejenis Ulil Absar Abdala? Karena bagaimanapun juga, dia katanya masih mengakui sebagai seorang muslim, tapi lucunya itu dia memakai istilah “Islam Liberal” padahal seorang muslim tidak bisa bebas seenaknya membuat aturan sendiri tentang beragama bukan? karena aturan beragama Islam itu merupakan hak Allah SWt, ya kan? lalu bagaimana amar ma’ruf dan diskusi dgn orang2 JIL?

    Dan hal yang cukup miris, orang2 JIL seperti Ulil Absar Abdala itu anak Kiyai bro… saya jadi makin bertanya2 ko bisa ya mereka memiliki pola pikir yang liberal??? Ada konspirasi apa dibalik lahirnya JIL di Indonesia? Bahkan di kampus2 yang di Bandung pun ternyata JIL sudah mulai merangkak untuk menjaring kader2 JIL…

    Satu lagi… maksud dari pernyataan “terjerumus kedalam romantisme…” nah maksud romantisme disini apa boz? Emang parameter seseorang dikatakan terjerumus dalam romantisme itu seperti apa? trus kenapa menggunakan istilah romantisme?

  11. haduh tulisannay kcil2 … kalo boleh usul ganti theme yang tulisannya standar 12 pt dunk,

  12. @ kk Filein

    sebenernya kalo kita sudah berdiskusi dalam pola pikir yang nyambung, etika sudah tidak menjadi masalah sama sekali.. tentu saja, karena pemikiran2 yang logis(nyambung) itu bebas romantisme.. -_-

    btw. tanggapannya ustadz Ismail Yusanto itu premis kontraposisi loh.. beliau mengeluarkan uji falsifikasi yang tendensius..

    kalo mau melontarkan tanggapan yang biimplikatif terhadap premisnya ulil harunya membangun tanggapan dari pemikiran mengenai keselamatan indonesia terhadap syariah.. jika syariah bisa menyelamatkan Indonesia, maka premis tanggapannya harusnya negasi terhadap premisnya ulil.. jangan memberikan tanggapan dengan konteks yang berbeda dari tesis awal seperti yang dilakukan Ustadz Ismail Yusanto..

    nah jadi gimana caranya menunjukkan pemikiran yang jernih terhadap orang seperti Ulil?! ya negasikan tiap2 cabang pemikirannya, hingga keakar2nya cengan premis2 biimplikatif.. jangan menunjukkan pemikiran yang kontraposisi.. dengan begitu maka orang2 seperti Ulil pasti mati kutu.. jika Ulil sendiri malah membalas dengan premis kontraposisi, maka negasikan tautan kerangka berpikirnya.. pasti mati kutu lagi..

    menurut wa kalo wa mendapat tanggapan seperti tanggapannya Ustadz Ismail Yusanto gampang saja merespon.. soalnya tanggapan kontraposisi.. jadi wa tinggal mengkaitkan konteks yang kontraposisi wa terhadap tesisi awal.. beres.. nah berbeda kalo wa dapet premis biimplikatif.. ketika premis itu sudah jelas pemikirannya, cuman ada dua pilihan, benar atau salah.. kalo premisnya negasi, orang pasti mati kutu, karena premis awalnya ternyata salah(dibuktikan dengan negasi dari premis tanggapan)

    yah itu menurut wa kk..

    kalo tentang terjerumus dalam romantisme.. ini maksudnya kadang suatu pemikiran membuat seseorang jadi nyaman.. nah ketika pemikiran terebut dibenturkan dengan pemikiran lain, kenyamanannya mau gak mau terganggu.. nah jika demikian, seseorang cenderung berdiskusi untuk membenarkan pemikirannya.. bukan mencari pemikiran kebenaran.. nah dalam kondisi seperti ini diskusi bisa rusak.. karena ternyata orang2nya berdiskusi dengan dasar kenyamanannya(yang berasal dari kepuasan naluriah atau perasaan.. dalam arti lain romantisme..)

    begitchulah kk..

    @ kk hmcahyo

    saran ditampung kk..

  13. btw, kalo Mr Uqi ada dalam posisi Mas Is (Ustadz Ismail), akan menanggapi Ulil dgn statement seperti apa boz? konkritnya… soale kalo yang namanya teori kan paling gitu2 aja ya kan?

  14. hmm.. pertama, wa akan menelusuri dulu alur deduktif bapak ulil inih.. maksudnya mencari premis2 yang membangun statement Ulil.. kenapa dia sampai bisa ngomong selamatkan indonesia dari syariah.. yaa bisa ditanyain aja ke ulilnya.. kenapa lil?? -_-

    setelah itu tahu, langsung uji verifikasi untuk menghasilkan pemikiran biimplikatif..

    begitu kk..

    masih lom konkrit yah?? yaa memang tidak memadai bahan untuk membuat contoh konkritnya kk.. statement ulil-nya kurang lengkap.. suer kk.. ndak ngeles wa kk.. :p

    jadi.. sebenernya dalam memberikan tanggepan, jangan acuannya membuat balasan yang membuat mati kutu.. niatnya jadi bukan diskusi lagioh atuh.. tapi usahakan kembangkan diskusi dengan pemikiran2 biimplikatif..

    wallahu’alam..

  15. satu lagi Boz, formulasi diskusi efektif ini sudah diuji coba benar2 efektif? paramater efrektifnya apeh? trus formulasi premis bi-implikatif ini merupakan hipotesa atau sudah di akui dunia?

    btw referensi yg dirimu gunakan apa sih? trus kalo memang dgn premis2 bi-implikatif (dengan mencermati pokok pikiran dalam hal yang ditanggapi dan mengapresiasinya dengan pengembangan pemikiran dari premis yang menurut pembaca harus dijadikan acuan.)

    nah bicara ttg acuan otomatis ga terlepas dari mabda seseorang, ya kan? otomatis meskipun dgn premis bi-implikatif, yg namanya the clash of civilization dalam sebuah diskusi pastinya tetap ada, ya kan? sebenarnya mengapresiasi dan mengembangkan pemikiran yang dirimu maksud kumaha? jika dikaitkan dgn beda ideologi, otomatis beda ideologi merupakan benteng yang cukup sulit untuk membuat sebuah kesepakatan bersama. ya kan? ga usah jauh2 deh, dalam diskusi ttg demokrasi dan Islam saja sesama kaum muslimin banyak yang bersiteru. apalagi kasus pro dan kontra pemilu kemaren, kumaha tah?

    jika dikaitkan dgn Rasul saw sebagai suri tauladan baik dalam hal pemikiran maupun sikap, dulu Rasul ketika memberikan pencerahan pemikiran kepada orang lain dgn menggunakan analogi saja, bukan premis. terkait metode analogi yg digunakan Rasul saw, what u’r opinion???

    Mohon petunjuk…

  16. @ kk filein..

    bismillaah..

    sudah terbukti?? mmm sebenernya pemikiran ini wa dapat dari menganalisis forum2.. alur forum ketika yang menanggapi menggunakan premis2 kontraposisi, langsung ga jelas forumnya.. berbeda ketika yang menanggapi menggunakan premis2 biimplikatif, forumnya lancar.. apa yang ingin didiskusikan terjawab dengan jelas.. dan arah perkembangan forumnya jelas.. gitu kk..

    kalo referensi sih, dari buku filsafat bahasa, hipersemiotika, dan wikipedia.. -_-

    nah mengenai perbedaan ideologi dalam diskusi.. ga da masalah laa, dengan ideologi yang berbeda bisa jadi dalam sebuah konteks akan terjadi negasi atau afirmasi.. memang berbeda ideologi, tentu punya pengejawantahan terhadap konteks2 yang berbeda.. namun ini tetap bukan masalah, karena sebuah ideologi bisa mengembangkan pemikirannya kepada konteks2 lain yang tentu tetap terikat dengan ide pokoknya dari ideologi tersebut..

    nah mengenai acuan, kan dalam premis biimplikatif kita mengeluarkan tanggapan berdasarkan acuan dari yang ditanggapi.. ini bukan berarti kita berubah ideologi.. ga nyambung sama sekali itu kk.. tapi kita mengeluarkan sebuah pemikiran kita mengenai acuan dan objek dalam premisnya..

    misalnya kalo masalah ekonomi, antara orang kapitalis dengan orang islam:
    tesis 1 orang kapitalis: jika pengelolaan energi diserahkan kepada pasar, maka nilai energi tersebut akan bergantung dengan pasar..
    tesis 2 orang islam: jika pengelolaan energi diserahkan kepada pasar memang nilai energi bakal tergantung pada pasar..

    disini orang islam membenarkan, karena premis tersebut memang benar.. ya iyalah kalo pengelolaan energi diserahkan ke pasar nlai energi bakal tergantung pasar..

    tesis2 orang kapitalis: dengan begitu, jika nilainya berada pada titik equilibrium, maka komoditas energi pengelolaannya berada pada tingkat efisiensi tertinggi..
    tesis 2 orang Islam: jika nilai energi berada pada titik equilibrium, ini tidak menunjukkan pengelolaannya pada tingkat efisiensi tertinggi..

    disini orang Islam menegasikan premisnya orang kapitalis.. tentu saja karena ada perbedaan acuan antara orang kapitalis dan Islam.. bagi orang kapitalis, energi adalah komoditas ekonomi(jual-beli).. sedangkan bagi orang Islam energi adalah komoditas penghidupan masyarakat yang dikelola negara.. sehingga penentuan tingkat efisiensinya bukan dengan mekanisme pasar..

    nah diskusinya bisa dilanjutkan dengan premis biimplikatif yang mengarah ke acuan orang Islam ataupun ke acuan orang kapitalis..

    misalnya ke acuan orang Islam..

    tesis 3 orang Islam: Pengelolaan energi yang efisien tidak didasari mekanisme pasar, melainkan pengupayaan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan energi masyarakat, hal ini karena energi bukanlah komoditas yang pengelolaannya dijalankan untuk mencari keuntungan, tetapi komoditas yang tersedia di alam untuk menjalankan dan mengebangkan kehidupan masyarakat..
    tesis 3 orang kapitalis : kalau energi bukan komoditas untuk mencari keuntungan, maka memang benar efisiensinya bergantung pada sistem pengelolaan yang dijalankan pemerintah. Namun mengapa energi tidak menjadi komoditas untuk mencari keuntungan??

    orang kapitalis mengafirmasi premisnya orang Islam, karena memang benar jika efisiensi yang bukan perkara ekonomi, maka bergantung sistem pengelolaan dan bukan mekanisme pasar, kemudian dia menambahkan tesis baru yang mengembangkan pemikiran ke arah energi sebagai komoditas non ekonomis..nah dari sini pemikiran orang kapitalis dan orang islam terus berkembang pada arah yang sama.. ini dikarenakan mereka menggunakan premis2 biimplikatif.. jika diteruskan diskusi ini bakal terus mengarah ke pengujian acuan.. nah pada titik itu, jika acuan orang Islam terafirmasi, maka akan didapatkan pemahaman bahwa pemikrian Islam adalah pemikiran yang benar.. nah kalo membuktikan pemikiran kapitalis yang salah, maka diskusi harus diteruskan ke arah acuannya orang kapitalis.. jika acuannya orang kapitalis ternegasikan, maka terbukti salah pemikiran kapialis itu..

    jadi gitu kk.. menanggapi premis dengan acuan yang sama pada tesis orang lain bukan berarti kita berganti ideologi.. ndak nyambung sama sekali itu kk.. tetapi justru kita mengeluarkan pandangan ideologi kita pada konteks tersebut..

    kalo masalah prebedaan pendapat dikalangan kaum muslimin sendiri mengenai demokrasi misalnya, ya seperti yang wa tulis diparagraf pertama.. justru itu dikarenakan mereka menggunakan premis2 kontraposisi.. nah karena diskusinya dengan premis seperti itu, maka acuan mereka masing2 tidak teruji.. karena perkembangan diskusi tidak sampai mengarah kesana.. akar perbedaan pendapatnya tidak disentuh.. ya gimana mau jelas..

    nah mengenai Rasulullah saw. yang kadang2 menggunakan analogi, disini wa punya pendapat.. hanya pendapat wa saja tapi.. sebagaimana pemahaman wa, analogi itu sebuah pemodelan yang paling distorsif.. sehingga sangat tidak tepat jika digunakan untuk membangun pemikiran.. namun Rasulullah saw. merupakan penerima wahyu dari Allah swt. akibatnya setiap ucapannya adalah sumber hukum.. nah analogi/pemodelan yang dikeluarkan beliau tidak hanya sekedar pemodelan, tapi menggambarkan hubungan sebenarnya dari yang dimodelkan.. artinya, hukum dibangun dengan pemikiran dengan pemodelan tersebut, karena hubungan apa yang dimodelkan memiliki kesamaan yang dijamin wahyu..

    nah kalo manusia biasa, pemodelan yang dilakukannya bukanlah berasal dari wahyu.. akibatnya pemodelannya tidak menyatakan hubungan yang sebenarnya dari perkara yang dimodelkan.. makanya kalo dalam sumber hukum Islam, penganalogian yang kita lakukan terhadap suatu perkara syara’ bukanlah sumber hukum.. untuk menggali hukum, kita harus mengikuti kaidah2 berbasis tekstual.. tidak boleh sembarang takwil dan qiyas..

    wallahu’alam kk..

  17. btw, menurut ka Uqi “kalo kita sudah berdiskusi dalam pola pikir yang nyambung, etika sudah tidak menjadi masalah sama sekali..”

    justru saya pikir yg membuat diskusi bertransformasi menjadi debat kusir karena masing2 individu tidak mengimplementasikan etika dalam berdiskusi dan debat seperti apa? soale debat dan diskusi merupakan 2 hal yang berbeda, kalo di KBBI disebutkan bahwa diskusi =pertemuan ilmiah untuk bertukar pikiran mengenai suatu masalah sedangkan,

    debat=pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dng saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing

    jadi saya pikir, yg membuat diskusi berubah menjadi debat kusir selain adanya premis kontraposisi juga karena masing2 personal tidak menaati rull of the game dari diskusi/debat,

    btw, ocehan aku ini bener ga sih???

  18. ikutan yah..

    sy pernah ikutan dlm sebuah forum diskusi about “independence day” diskusinya speak in english..

    di awal diskusi sy memimpin, tiba2 ada temen sy yg langusng kontra dengn pemikiran yg sy paparkan… suer dr forum diskusi berubah jd debat antara sy ma dia.. panas banget..

    klo dipikir3 kenapa dr forum diskusi berubah ke-debat.. sy sedikit sepakat mungkin apa yg sy paparkan balik ttg pendapat dia ithu premis kontraposisi semua.. ditanya ttg penjajahan, sy memaparkan history of khilafah (ga nyambung)… sehingga dia kasih statement “indonesia ga dijajah, klopun dijajah justru dijajah ma para kesultanan (red, bagian khilafah jg khan ini)..

    tp sy berpikir lagih, biasanya terjd clash dlm diskusi karena ada “kerangka berpikir yg berbeda satu sama lain”, aduh sy sedikit sulit memposisikan premis kontraposisi ini dimana?? sehingga sy dpt menghindr hal tersebut… apakah conten dr apa yg dibicarakan?? klo iyah ini terkait ma gaya bahasa, cara penyampaian, sisi psikologis, dan terakhir kadar “loading” seseorang yg sampai saat ini sy menyimpulkan semuanya berbeda2..

    nah ini gimana??

    sebelum berdiskusi kita hrs bisa melihat “content diskusi” sehingga penyampian yg akan di paparkan tepat… tp ini jg beda2 (sampai sekarng sy jg masih pusing).. kadang ketika sy sudah memapaparkan pemikiran secara serius di tanggapi scr junk.. sehingga memancing premis kontraposisi yg akan sy sampaikan..

    dan ini klo di bls seperti itu diskusi jd ga sehat, maka disini ada celah “menyesuaikan dan mengarahkan lagi arah diskusi”

    btw, klo apa yg sy paparkan mengandung premis kontraposisi.. mohon dimaapkhan.. (learning proses)

  19. bismillaah..

    @ kk filein

    yah ketika wa bilang “diskusi jika sudah pada pola pikir yang nyambung ga akan berubah pada debat kusir”, tentu itu dengan terpenuhinya definisi diskusi..

    mungkin agak berbeda pemahaman kita tentang etika.. kk filein memahami etika sebagai ketaatan terhadap reule of the game.. kalo etika yang wa sebutkan dalam argumen wa itu dipahami sebagai kesantunan dalam sikap.. -_-

    yah intinya sih, selama yang kita lakukan dalam diskusi adalah mengemukakan pemikiran kita pada permasalahan yang dibicarakan, dan menganalisis secara logis pemikiran yang disampaikan orang lain, kemudian memberikan tanggapan kita atas pemikiran yang kita analisis tersebut dengan sebenar2nya(tidak dengan tendensius).. niscaya tidak akan terjadi debat kusir.. asalkan saling menagnggapinya secara biimplikatif tentu sajah..

    @ kk firda..

    kerangka berpikir tiap orang dalam diskusi memang berbeda2.. makanya diperlukan diskusi.. nah yang dilakukan dalam diskusi adalah mengembangkan kerangka berpikir masing2 sampai kepada konteks yang dibicarakan..

    nah jika masing2 sudah mengembangkan kerangka berpikirnya pada permasalahan yang dibahas, pada konteks permasalahan tersebutlah terbentuk hubungan antara kerangka berpikir seseorang dengan seseorang yang lain.. diskusi kemudian berjalan dengan menentukan value dari tiap2 cabang kerangka berpikir dimulai dari konteks yang dipermasalahkan.. apakah valuenya negasi atau afirmasi(artinya premisnya biimplikatif)..

    wew.. mungkin penjelasan dengan bahasa wa kurang kebayang yah(naon maksud menentukan value? -_- )..

    yah mungkin contohnya seperti contoh yang wa paparkan pada penjelasan untuk pertanyaannya kk filein.. seorang kapitalis dengan kerangka berpikir ekonominya, dan orang Islam dengan kerangka berpikir ekonominya.. kerangka berpikir mereka bertemu pada masalah pengelolaan energi.. nah kemudian diskusinya berjalan dengan meninjau cabang2 pada kerangka berpikir masing2.. awal konteksnya pengelolaan energi yang efisien.. konteks ini tentu dibangun dengan pemahaman mengenai status energi.. setelah konteks pengelolaan energi yang efisien di negasikan dengan premis biimplikatif, diskusipun mengalir ke cabang berikutnya, yaitu status energi tadi.. jika diteruskan lagi tentu diskusi akan mengalir ke konteks pemikiran2 yang membangun pemikiran mengenai status energi..

    seperti itu mungkin lebih dipahami..

    btw.. kalo memperhatikan konten diskusi.. hmm.. kalo wa sih selalu berusaha serius dalam konten apapun kalo memang niat.. kalo ternyata malah mengundang junk, berarti lawan diskusinya lagi jangar.. (masih lom serius niatnya..) -_-

    tanggapan secara junk ataupun tanggapan2 yang kontraposisi, sebenernya tidak memberikan jawaban atas permasalahan.. setidaknya jawaban yang dikehendaki sesuai konteks berpikir.. oleh karena itu untuk menyesuaikan lagi alur diskusi, diminta lagi saja tanggapannya tas permasalahan yang dipermasalahkan..

    misalnya kalo permasalahan ditulisan wa.. karena todafan menyampaikan tanggapan yang kontraposisi, maka schlachthausabattoir dapat bertanya kepada todafan : “Jadi apakah dalam membangun tulisan itu dibutuhkan atau tidak penelaahan dan pencantuman data2 supaya pemikiran kita terjamin kebenarannya??

    yah gitu deh kk..

    wallahu’alam..

    wa juga masih pemula kk..

  20. Komentar-komentarnya panjang betul..
    Menandakan kualitas dari tulisan dan orang2 yang menuliskannya.. :roll:

  21. setuju sama mas zuhair

  22. Wah keren…!

    Saya lebih sering menggunakan istilah kontraposisi dan biimplikasi dalam logika matematika. Dalam forum ini penggunaannya sedikit berbeda tetapi masih sejalan.

    Contoh:
    (implikasi): Jika BERIMAN maka BERPUASA

    (kontraposisi): Jika TIDAK BERPUASA maka (pasti orang yang) TIDAK BERIMAN

    (biimplikasi): Jika dan hanya jika BERIMAN maka BERPUASA

    Dalam logika formal (matematika) kontraposisi senilai dengan implikasi. Tetapi biimplikasi adalah sesuatu yang berbeda.

    Penggunaan untuk diskusi, seperti dalam artikel ini, menurut saya,

    Biimplikatif cocok untuk diskusi yang fokus pada suatu tema penting.

    Kontraposisi cocok untuk diskusi yang bertujuan menghasilkan ide-ide baru. Tentu saja harus dalam suasana yang saling menghargai dan mendukung. Jika tidak maka dapat terjadi debat kusir.

    Terima kasih atas artikelnya yang bagus!

    Salam hangat,
    angger

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: