Mengapa susah banget nulis??!!

(update v1.0.1)

Yaa bisa dilihat sendiri, kenapa blog ini sudah setahun lebih masih kosong. Hanya ada dua tulisan, tulisan pertama cuma tulisan teu puguh. Hanya ekspresi pertama ketika membuat blog. Tulisan kedua juga cuma tulisan maen-maen yang ditulis sambil stress memikirkan “what i want to achieve in this life”(yang sampai sekarang belum ketemu-ketemu juga).

Kalau tulisan-tulisan yang menggambarkan perasaan jiwa, mungkin gampang untuk dijalankan. Tinggal mengeluarkan apa yang ada dalam otak, tanpa pikir panjang untuk menyesuaikan hubungan semiotik dalam kata-katanya. Masalahnya sesuai judul baru blog ini, saya bukan orang yang suka romantisme. Sebuah tulisan yang ingin saya buat minimal mencakup pemikiran atas suatu permasalahan, tidak peduli apakah permasalahan tersebut diapresiasi penting atau tidak penting oleh orang-orang. Yang penting ada alur logikanya.

Namun bukan berarti saya juga jarang sekali menulis. Yang membuat saya membuat blog ini juga karena saya punya hasrat terpendam untuk mengeluarkan segala pemikiran yang ada dalam otak saya. Sebenarnya kalau hanya menulis tulisan yang ada alur berpikir, setiap hari saya bisa membuat tulisan semacam itu rata-rata sebanyak 7 tulisan perhari. Panjang tulisan satu sampai empat paragraf kecil. Tapi tulisan tersebut adalah tulisan-tulisan komentar di dunia maya yang menanggapi pemikiran dalam tulisan orang lain.

Lantas apa bedanya tulisan komentar dengan tulisan pemikiran biasa? Suatu tulisan komentar yang biasa saya tuliskan hanya dihasilkan dari penalaran saya terhadap logika berpikir dalam tulisan yang saya komentari. Saya cukup melakukan uji verifikasi terhadap alur logika yang sudah dibentuk. Tinggal dilihat apakah premis-premis yang membentuk pemikiran tersebut sudah sesuai dengan hukum-hukum logika. Selain itu saya juga melakukan uji falsifikasi dengan membandingkan pemikiran saya sebelumnya dan pengetahuan yang saya miliki. Dari dua pengujian tersebut saya dapat membuat sebuah komentar yang merumuskan kembali alur berpikir pada tulisan yang saya komentari.

Bagaimana dengan tulisan pemikiran biasa(mohon maaf, saya sulit mencari istilah yang sesuai)? Dalam sebuah tulisan pemikiran yang terdapat pemahaman atas suatu permasalahan, sang penulis membutuhkan waktu untuk mengkontemplasikan informasi-informasi yang ada dikepalanya dan berusaha merangkainya dalam alur deduktif. Semakin tersusun pola-pikirnya, semakin cepat dia berkontemplasi. Sebaliknya, semakin kacau pola-pikirnya dan semakin banyak informasi yang dimilikinya akan menambah kesemrawutan informasi dalam otaknya yang mengakibatkan waktu yang dibutuhkan untuk berkontemplasi akan semakin lama.

Selanjutnya pemikiran mengenai permasalahan yang akan dituliskan dibangun dengan premis-premis yang sebelumnya sudah diketahui oleh sang penulis. Apabila dalam penyusunan pemahaman tersebut terdapat premis yang belum diketahui bentuknya, apakah itu dikarenakan kekurangan data untuk membuat konklusi atau miskin konsep permasalahan, maka sang penulis harus melakukan pencarian informasi atau penelaahan lebih lanjut untuk melengkapi premis-premisnya. Setelah alur premis-premis tersebut selesai, selanjutnya tinggal melakukan evaluasi atas alur berpikir yang telah disusun. Sebaiknya dilakukan uji verifikasi sendiri dahulu sebelum diuji oleh pembaca.

Dari pemaparan diatas dapat dilihat betapa jauh lebih mudah menjadi seorang tukang komentar dibandingkan menjadi seorang penulis. Seorang tukang komentar tinggal mengamati alur berpikir yang telah dibuat sehinga dia tidak perlu menentukan batas dalam analisisnya dikarenakan sudah tersedia dalam kerangka berpikir tulisan. Bila ada premis yang dia tidak miliki sebelumnya, maka dia tinggal menyerapnya menjadi informasi baru di otaknya. Informasi baru tersebut dia sesuaikan dalam alur berpikir yang dia miliki sebelumnya sambil mengamati lebih lanjut tulisan yang akan dia komentari. Dalam sekejap sang tukang komentar dapat langsung menilai tulisan tersebut benar atau salah, lengkap atau tidak. Jika sang tukang komentar lebih berpengetahuan dibanding sang penulis, maka biasanya tulisan komentarnya bisa panjang karena dia merumuskan kembali hampir seluruh kerangka berpikir tulisan bahkan ditambah kerangka berpikir yang dia miliki. Bila sang tukang komentar tidak lebih berpengetahuan, komentarnya akan pendek dan mengemukakan analisisnya terhadap hubungan premis-premis yang telah ada saja, bahkan no comment.

Namun seorang penulis harus berusaha keras menyusun informasi-informasi dikepalanya, mengevaluasi batasan topik dari perkembangan premis-premis yang dia miliki, serta melakukan pencarian informasi dan penelaahan terhadap konsep masalah.

Apalagi dalam kondisi yang saya alami, bacaan buku saya juga tidak terpolarisasi terhadap satu pemikiran. Saya juga masih mengaji di berbagai tempat. Hal ini semakin menyulitkan saya dalam berkontemplasi. Ditambah lagi saya adalah orang yang sangat perfeksionis. Premis-premis dalam pemikiran yang akan dipublish haruslah terbukti kebenarannya dalam alur berpikirnya masing-masing tanpa peduli seberapa kompleks permasalahan yang harus saya telaah. Dan karena hal ini, evaluasi terhadap batasan topik seringkali membuat tulisan harus berubah kerangka berpikirnya dari pendahuluan hingga kesimpulannya. Kerangka berpikir saya bisa berubah 180 derajat ketika membuat sebuah tulisan, karena dalam penelaahan permasalahan sering saya temukan kesalahan konsep awal yang saya miliki.

Sebagai contoh, dulu ketika saya ingin membuat sebuah kajian tentang kenaikan harga BBM, pemikiran awal yang saya miliki adalah kenaikan tersebut akan menyengsarakan masyarakat. Kemudian saya mendetilkan apa yang dimaksud dengan menyengsarakan. Dari sini saya harus mencari informasi mengenai pengaruh langsung kenaikan BBM terhadap sektor-sektor perekonomian. Dari pengaruh-pengaruh yang terjadi tersebut saya juga lantas mencari bagaimana respon sektor-sektor perekonomian tersebut terhadap terjadinya kenaikan. Apakah masih mampu berkembang? Ataukah mampu beradaptasi? Untuk menjawab itu saya perlu menganalisa bagaimana cara sektor-sektor tersebut berkembang dan beradaptasi terhadap pertumbuhan ekonomi? Dari penelaahan ini akhirnya saya malah mempelajari banyak hal mulai dari mekanisme sektor keuangan dan event yang terjadi seperti inflasi, fisher effect, sampai kebijakan fiskal yang dilakukan pemerintah. Jika premis-premis tersebut telah jelas maka saya bisa menyimpulkan secara komprehensif apakah kebijakan ini menyengsarakan atau tidak. Tapi belum selesai. Karena adanya kebijakan lain dari pemerintah yang menyertai penaikan harga BBM, maka sayapun harus menganalisis keefektifan kebijakan-kebijakan tersebut. Dan penganalisaannya juga mau tidak mau harus mengikuti arah yang telah dilakukan dalam pembahasan premis sebelumnya. Pada akhirnya karena terlalu rumit, akhirnya pemikiran inipun tidak selesai-selesai saya rumuskan. Saya akhirnya lebih menikmati nonton Tengen Toppa Gurren Lagann(sejenis anime mecha).

Demikianlah saya paparkan kesulitan yang dihadapi dalam menulis sebuah pemikiran. Sebenarnya saya sadar pemaparan ini kurang memberikan jawaban terhadap pertanyaan(sekaligus pernyataan) yang tercantum dalam judul tulisan ini. Tulisan ini hanya memberikan jawaban mengenai mengapa menulis komentar lebih mudah daripada menulis tesis awal(akhirnya saya temukan istilah yang bagus). Jawaban atas “mengapa susah banget nulis??!! itu jelas karena saya kurang bersungguh-sungguh…

[keterangan update v1.0.1 : perbaikan beberapa istilah dan kata-kata yang digunakan]

~ by schlachthausabattoir on February 18, 2009.

9 Responses to “Mengapa susah banget nulis??!!”

  1. hahahahaha, simple is not easy

    harus dibedakan menuliskan sebuah hasil pemikiran dengan menuliskan alur berpikir. Dalam menuliskan sebuah artikel hasil pemikiran tidak lah kita perlu menjelaskan semua hal yang melandasi hasil pemikiran tersebut. Dapat dikatakan cukup tulis kesimpulannya saja.

    Memang di kesimpulan itu bisa saja ditopang oleh ratusan atau ribuan referensi tetapi tidak usah hal itu diungkapkan. Tidak perlu kaitan-kaitannya ditulis, justru kita harus berusaha mensimplifikasi bahasa yang disampaikan kepada pembaca. Tetapi ketika perlu pembahasan mendalam kita siap memaparkannya.

    So start to write

  2. ini tesis awal yang bagus…!! ck ck… awa jadi orang yang tidak memiliki pengetahuan lebih banyak dari tesis awal kamu ah….no comment…..

  3. @ kk eecho..

    wa kira suatu artikel yang ingin menyampaikan suatu pemikiran, tentu saja harus mengandung setiap hal yang membangun pemikiran itu sendiri.. memang benar tidak usah semuanya dipaparkan.. tapi tentu saja dalam artikel tersebut sang penulis harus telah memiliki alur berpikirnya.. kalo belum?? bagimana bagian kesimpulan dalam artikel tersebut dihasilkan??

    @ kk haryadi..

    ntahvavapunh..

  4. comment update v1.0.1
    sebetulnya permasalahan yang timbul ketika menulis pemikiran awal adalah….polarisasi tulisan. Sadar atau tidak, setiap tulisan yang kita buat pasti mengandung polarisasi walaupun seperti bagaimana kita menulisnya kecuali kita menulis mengenai keadaan/fakta…..

    But, itu bukan masalah kalau argumen2 yang kita kemukakan adalah argumen2 yang jelas sumber rujukannya dan telah terverifikasi kekuatannya. yang menjadi masalah adalah tatkala kita ingin menelurkan pemikiran awal tanpa pertentangan. Pemikiran seperti ini cenderung moderat dan tanpa polarisasi……..

    Tatkala kita mencoba membuat sebuah tulisan “sempurna” yang tanpa polarisasi dan pertentangan, maka timbul sebuah tanda tanya besar “Apa efek tulisan ini bagi masyarakat yang membacanya?”. Ketika mereka cuman mengangguk2 sahaja karena tulisan tersebut mencoba seaman mungkin setuju dengan kondisi pemikiran awal mereka yang belum tentu dapat teruji verifikasinya.

  5. wew.. konek darimana kk??

    bukannya tidak ingin ada pertentangan.. hanya saja, wa tidak mau mempublish sebuah pemikiran yang wa sendiri sadar kesalahan dan kelemahannya..

    yaah mungkin adanya pertentangan dalam pemikiran pembaca dan tulisan akan berefek serius pada pemikiran pembaca.. tapi bukankah jika ada pemikiran dan wawasan baru yang masuk ke pemikiran pembaca juga ikut mempengaruhi jalan berpikir sang pembaca??

  6. Mungkin harus dicari tahu dulu, apa yang akan dan bisa didapatkan atau diperoleh dari aktivitas tulis-menulis. Kalau tidak ada apa-apanya, lalu buat apa menulis?

  7. dalam aktivitas tulis menulis akan terdapat penyusunan pemikiran. yang mengapresiasi tulisan akan menerima informasi baru mengenai pemikiran yang sudah disusun.

    githu ajha kok report??

  8. wah, logika anda super banget, kagum saya baca isisnya, sampai-sampai saya harus buka tutup kamus.

    salut, pak

  9. sama neh… mau nulis tapi takut di tangkep polisi….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: